Minggu, 03 Juni 2018

MEMBANGUN AKHLAK DENGAN MEMAAFKAN







Inilah cara paling manjur dalam menumbuhkan rasa cinta dan sayang manusia. Allah berfirman,
 وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)
Jika seseorang melontarkan makian kepada Anda, maafkanlah dan ucapankan kata-kata yang baik. Jika seseorang bersikap tidak baik terhadap Anda, maka Allah akan tetap membantu Anda jika Anda memberi maaf dan tetap berbuat baik.
Jika seseorang menganiaya Anda, maafkanlah. Sesungguhnya Allah akan membela Anda, karena Allah selalu membela orang yang teraniaya. “Sesungguhnya. Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38).
Allah Swt berfirman, “Demikianlah. Dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian dia dianiaya lagi, maka Allah akan menolongnya.” (QS. Al-Hajj: 60) Ini hak orang yang membalas penganiayaan yang ia terima; Allah pasti menolongnya! Apalagi orang yang menyerahkan semua haknya kepada Allah. Oleh karena itu, tetaplah memberi maaf, karena memaafkan termasuk karakter orang-orang baik.
Allah Swt berfirman,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
 “Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)
Allah Swt berfirman,
يَا وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)
 Allah Swt berfirman,
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
 “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda,
 مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ أِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ أِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
 “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta dan Allah akan menambah seorang hamba yang memberi maaf dengan keagungan. Orang yang rendah hati kepada Allah akan diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw bersabda,
 اِرْحَمُوْا تُرْحَمُوْا وَاغْفِرُوْا يَغْفِرْلَكُمْ
 “Sayangilah, niscaya kalian akan disayangi, dan maafkanlah, niscaya halian akan dimaafkan.” (Ahmad, Abdun ibn Hamid dalam al-Muntakhab dan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)
Rasulullah Saw bersabda,
 مَا تَجَرَّعَ عَبْدٌ جَرْعَةً أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَرْعَةٍ غَيْظٍ يَكْظِمُهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى
 “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia, di sisi Allah, yang ditelan oleh seorang hamba daripada kemarahan yang dia tahan untuk mendapat ridha Allah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 Memberi Maaf dan Berbuat Kebaikan Termasuk Karakter Rasulullah Saw
 Dari Abdullah ibn Amru ibn al-Ash r.a., “Ayat yang ada dalam al-Qur’an, “Wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, “, pernah Allah firmankan dalam Taurat, “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan dan menjadi pelindung bagi masyarakat jelata. Engkau hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku menyebutmu sebagai orang yang berserah diri (almutawakkil). Tidak kasar tutur katanya, tidak keras hatinya tidak teriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan. Tetapi dia memberi maaf dan toleran. Allah tidak akan mengambilnya sampai Allah meluruskan, dengan perantara dia agama yang menyeleweng dengan menyatakan tidak ada Tuhan selain Allah. Dengan demikian terbukalah mata yang buta telinga yang tuli dan hati yang tertutup.” (HR. Bukhari)
Dari Abi Abdullah al-Jadali, “Aku bertanya kepada Aisyah r.a tentang budi pekerti Rasulullah Saw. Lalu dia berkata,
 “Dia tidak keji, tidak berkata kotor, tidak berteriak keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejelekan. Dia adalah orang yang memaafkan dan toleran.” (HR. Tirmidzi)


Referensi: diringkas dari Buku “Fikih Akhlak”, karya Musthafa al-‘Adawy, penerbit Qisthi Press

RIYADLUL JANNAH MAOPATI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN BERKOMENTAR SESUKA HATI. NAMUN APAPUN ITU ADALAH CERMINAN DIRI ANDA.